SMS dan Telepon (I kinda hate it…)

Januari 28, 2012 at 10:14 PM (Uncategorized) (, , , , )

Saya tidak suka sms-an atau pun telepon2an. Entah kenapa, saya hanya tidak pernah menikmati kegiatan mengobrol via telepon atau sms, bahkan kadang saya membencinya. Mungkin dari sifat saya yang cenderung introvert dan terkadang merasa ingin sendiri dan tidak ingin diganggu atau dihubungi oleh orang lain – tidak jarang saya mematikan handphone saya (walaupun sekarang handphone sudah canggih, tidak perlu dimatikan sama sekali, cukup dengan meng-aktifkan Airplane Mode, maka tidak ada sms, telepon atau notification yang masuk dan mengganggu). Buat saya telepon atau sms diperlukan hanya untuk membicarakan hal-hal yang penting dan memang perlu; bukan untuk mengobrol ngalor-ngidul. Bahkan dengan sahabat dan keluarga sekalipun saya menggunakan telepon dan sms hanya untuk hal-hal penting.

Maka dari itu bisa dikatakan saya adalah orang yang kurang menyenangkan jika diajak mengobrol via sms atau telepon. Kalau di sms, biasanya setelah sekian lama baru saya menjawab, membalas sms hanya singkat, seperlunya, kadang malah tidak dibalas sama sekali…. Kalau ditelepon, saya hanya akan menjawab kalau ditanya, kalau hal yang ingin saya tanyakan/bicarakan sudah selesai, ya sudah, saya tidak akan membuka suatu percakapan baru, and I really don’t mind if there’s a silence because of that; biasanya sih lawan bicara saya yang akhirnya jadi bingung sendiri dan mengakhiri telepon.

Boleh tanya sendiri deh ama teman saya. Saya punya dua sahabat kuliah; setelah lulus, bekerja (dan ada yang berkeluarga) saat ini kami bertiga tinggal di 3 kota yang berbeda. Dari bertiga, yang suka telepon-telepon-an ya hanya mereka berdua, saya hanya kadang-kadang sms atau chat via WhatsApp. Tapi saya suka mengirim e-mail (mungkin karena saya suka menulis), that’s how we’re stay connected – through e-mail.

Karena sifat saya yang ini pula, maka cukup banyak lelaki yang mundur teratur (hahaha….). Maksudnya?? Maksud saya – I’m in my late twenties and still single – suatu kewajaran jika orang tua, saudara, teman atau rekan kerja mencoba mengenalkan saya dengan seseorang yang mereka rasa cukup pantas dikenalkan kepada saya. Saya tidak pernah merasa berkeberatan dengan hal ini. Tapi mulai menjadi masalah jika metode yang digunakan adalah melalui sms atau telepon itu lah. Bisa dibayangkan dong, ngobrol dengan orang terdekat pun saya malas, apalagi dengan orang baru yang belum saya kenal….! Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, ya saya jawab sms dan bicara di telepon seperlunya saja, datar, dingin. Tidak heran kalau banyak yang mundur begitu saja.

Hari ini hal itu terjadi lagi, tiba-tiba ada seseorang yang menelepon saya, mengatakan dia mendapatkan no telepon saya dari kerabatnya dan mengungkapkan niatnya untuk berkenalan. Seperti biasa saya menjawab seperlunya, berusaha sebisa mungkin untuk ramah, tapi setelah percakapan selesai dan telepon ditutup, I just had it. Enough is enough, sudah cukup, saya tidak mau lagi yang kayak begini. I hate it. Jangan salah ya, yang saya benci bukan orangnya, tapi metodenya. Saya betul-betul tidak suka ditelepon atau di sms seperti itu. To me, it’s disturbing.

Maka dari itu saya langsung menulis ini karena saya ingin minta tolong banget…, untuk orang-orang yang ingin mengenalkan saya dengan siapa-pun, langsung saja saya dipertemukan dengan orangnya, biar bisa ngobrol secara langsung. Untuk yang ingin kenalan dengan saya, langsung saja ajak saya untuk ketemuan, Insya Allah saya bersedia (kalau tidak ada hal-hal yang diluar batas kewajaran), atau kalau langsung ketemu terlalu ekstrim, berkenalan melalui e-mail boleh juga, saya tidak berkeberatan. Jangan pernah memberikan nomor telepon atau meminta nomor telepon saya, sudah pasti tidak akan saya tanggapi!

PS. I guess I’m a person who can never be in a Long-Distance Relationship

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

STOP HUMAN-TRAFFICKING

Januari 7, 2012 at 12:53 AM (Reminder) (, , , , , , , , )

Beberapa hari yang lalu saya menonton film The Whistleblower. And it disturbed me. Disturbed me deeply. Film yang mengangkat kisah human trafficking ini berdasarkan kisah nyata tokoh utamanya, Kathryn Bolkovac, yang diperankan oleh Rachel Weisz.

Kathryn adalah seorang polisi Amerika yang bekerja sebagai penjaga perdamaian pasca perang Bosnia tahun 1999. Saat melakukan razia di sebuah bar, Kathy menemukan bukti-bukti human-trafficking pada gadis-gadis yang dipaksa menjadi pekerja seks dan mengalami kekerasan fisik, emosional maupun seksual. Setelah melakukan penyelidikan lebih dalam, Kathryn menemukan bahwa rekan kerjanya sendiri, para polisi dan petugas penjaga perdamaian, bukan hanya mengetahui mengenai human-trafficking ini tapi justru terlibat aktif dalam trafficking tersebut.

Semakin Kathryn mencoba menegakkan keadilan dan menyelamatkan para korban trafficking, Ia terus menemukan intimidasi dari rekan kerja, halangan dari petinggi organisasi & perusahaan ; bahkan hingga akhirnya Ia dipecat dari pekerjaannya tanpa alasan yang jelas. Karena tidak bisa mendapatkan keadilan dari dalam sistem, akhirnya Kathryn membeberkan hasil penyelidikannya kepada publik melalui media.

Sebenarnya sudah cukup banyak film (film import maupun filmIndonesia) yang mengangkat tema human-trafficking. Dan film The Whistleblower ini bukanlah film pertama bertema trafficking yang saya tonton. Tapi baru kali ini masalah human-trafficking sangat mengena dan menyentuh hati nurani saya; entahlah, mungkin istilahnya dulu saya belum mendapatkan hidayah. Tapi kini hidayah itu telah sampai, membuka hati dan pikiran saya, menumbuhkan kepedulian mengenai isu human-trafficking, membuat saya browsing di internet mencari informasi tentang perdagangan manusia ini.

Sedikit dari hasil yang saya dapatkan:

  • UN’s International Labor Organization (ILO) memperkirakan sekitar 2,5 juta orang menjadi korban trafficking di seluruh dunia. Lebih dari setengahnya berasal dari Asia Pacific
  • Lebih dari 80% korban trafficking adalah perempuan dan hampir 50% dari korban trafficking adalah anak-anak (<18 tahun)
  • Human-trafficking menempati urutan ke-2 perdagangan ilegal terbesar di dunia setelah drug-trafficking
  • Indonesia adalah salah satu Negara sumber, transit dan juga tujuan dari trafficking

Ini adalah postingan pertama saya di tahun 2012, maka dari itu saya ingin memulainya dengan kebaikan; menyeru kepada kebaikan dan mencegah keburukan/kejahatan (amar ma’ruf nahi munkar). Saya ingin membagi kegelisahan saya, ingin menyebarkan dan menularkan rasa kepedulian saya mengenai isu perdagangan manusia atau human-trafficking ini.

Human-trafficking adalah suatu perbudakan di zaman modern. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, kemerdekaan adalah hak setiap manusia. Tidak seharusnya ada seorangpun manusia yang dirampas kebebasannya, diperjual-belikan, dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak diinginkannya, bahkan mendapat siksaan secara fisik, mental ataupun seksual.

Untuk yang suka menonton film, selain film The Whistleblower yang sudah saya bahas diatas, saya merekomendasikan film-film yang mengangkat isu human-trafficking (walaupun bukan sebagai tema utama film), beberapa judul film dari daftar tersebut mungkin sudah anda tonton tapi saat menonton mungkin anda lebih memperhatikan segi action atau kisah cinta di dalamnya (seperti saya dulu sebelum disadarkan oleh film The Whistleblower) :

  • TAKEN (2008; cast: Liam Neeson)
  • SLUMDOG MILLIONAIRE
  • MERANTAU
  • JAMILA DAN SANG PRESIDEN
  • XIA AIMEI (filmIndonesia yang akan segera tayang di bioskop-bioskop kesayangan anda. Sebagai alternatif pilihan menonton selain film-film pocong atau kuntilanak)

Atau buka website-website ini untuk informasi lebih lengkap (saya mendapatkan sebagian besar informasi mengenai human-trafficking dari kedua website ini):

www.humantrafficking.org : “A significant number of Indonesian women voluntarily migrate to work as domestic servants but are later coerced into abusive conditions.”

www.mtvexit.org : “MTV EXIT is a campaign about freedom – about our rights as human beings to choose where we live, where we work, who our friends are, and who we love. Most of us take these freedoms for granted, but hundreds of thousands of people throughout the world have had these basic human rights taken away.”

 

STOP HUMAN-TRAFFICKING

Spread the awareness

Let’s Join the Fight!

 

Permalink 5 Komentar

Officially and Proudly to Be an ELF (I’m a Super Junior Fans!)

Desember 6, 2011 at 2:12 AM (Love) (, , , , , , )

I am a Super Junior fans. Walaupun baru dua bulan terakhir ini saya menjadi fans Super Junior. Untuk yang belum tahu apa itu Super Junior a.k.a. SuJu, mereka adalah grup vocal alias boyband dari Korea Selatan yang terdiri dari 13 orang, walaupun saat ini anggota yang aktif hanya 9 orang dikarenakan wamil,dsb. Bagaimana ceritanya sampai saya bisa menjadi fans SuJu? Awalnya adalah karena kedatangan Hyun Bin, aktorKorea yang sedang wamil, ke Indonesia bulan Oktober 2011. Saat itu infotainment di seluruh saluran tivi selain menampilkan berita mengenai Hyun Bin juga membahas mengenai demam Korea/Korean Fever di Indonesia.

Dalam liputan tersebut ada satu klip lagu K-Pop yang sering ditampilkan yaitu lagu Bonamana dari Super Junior, walaupun tidak diputar penuh satu lagu~tapi dari mendengar lagu yang hanya sekilas tersebut saya langsung tertarik dan berpikir: “nih lagu kayaknya asik banget”. Saya jadi penasaran dan mencari klipnya di Youtube. Sekali mendengar lagunya dan melihat MVnya sudah cukup membuat saya jatuh cinta pada lagu Bonamana. Menurut saya lagu itu dahsyat banget, ear-catchy, beatnya asik, dan dance performance para personil di video klip-nya keren.
Tapi dari situ saya pun baru tahu kalau ternyata saya telat banget. Lagu itu sudah jadi hit lebih dari setahun yang lalu dan saat itu mereka sudah mengeluarkan lagu hit dari album terbaru yang berjudul Mr.Simple ~ lagu yang sama menariknya  apalagi setelah tahu arti dari lirik lagunya, makin suka sama lagu Mr.Simple.
Dari kedua lagu itulah awal perkenalan pertama saya dengan SuJu. Sebelumnya saya SAMA SEKALI tidak tahu, tidak pernah melihat, atau mendengar tentang Super Junior. Sebelumnya saya buta K-Pop, saya tidak tahu apa itu atau siapa itu SuJu. Setelah beberapa lama lagu Bonamana dan Mr.Simple nangkring di playlist saya pun, awal2nya saya belum terlalu ngeh dengan personil SuJu, hanya satu orang yang saya hafal wajahnya yaitu Siwon karena dia pemeran utama drama Oh My Lady, maka dari itu wajahnya lah yang tampak familiar – selain dari fakta bahwa wajahnya yang sungguh tampan – selebihnya rasanya saya sulit membedakan antara personil yang satu dengan yang lain (there are so many of them! I’m really confused at first).

Tapi memang tak kenal maka tak sayang. Akhirnya saya mulai browsing-browsing mengenai SuJu, mencoba mengenal mereka. And I fall for them, for every single one of them. Selain Siwon, ada Leeteuk – the charming leader; Eunhyuk, Donghae, Shindong – the best dancers; Kyuhyun, Ryeowook, Yesung, Sungmin – the best vocals; last but not least Heechul, personil dengan karakter paling unik & wajah paling ‘cantik’. Ditambah tiga personil yang saat ini tidak bisa aktif bersama yang lain karena wamil dan fokus pada solo karir (singing & acting) – Kangin, HanGeng & Kibum. Saya sangat menyukai kedekatan dan interaksi di antara sesama personil SuJu, they are so close to each other. Walaupun mereka anggotanya banyak tapi mereka solid.

Saya membeli CD-CD Super Junior. And I love every single track in their albums. Saya membeli buku dan majalah yang membahas Super Junior. Memasang foto SuJu sebagai desktop background di laptop dan hape saya. Saya bahkan memasang poster SuJu di kamar. Walaupun hanya sebuah poster dengan ukuran sedang, karena sebetulnya saya memiliki sebuah poster promosi album terbaru SuJu, Mr.Simple, ukuran super besar with Siwon in the middle, showing his perfect six-pack abs.

Mr.Simple - Super Junior

Maksud hati sebenarnya ingin memasang poster yang ini, tapi saya masih bisa menahan diri, karena kalau saya memasang poster itu di kamar, Ibu saya mungkin bisa pingsan kalau melihatnya. Beliau pasti bingung ada apa dengan anak gadisnya yang satu ini, kenapa tiba-tiba menjadi seperti anak ABG lagi.

Yah memang saya akui saya, seorang perempuan berusia 29 tahun, sudah seperti anak ABG umur belasan tahun. Tapi jujur memang baru kali ini saya merasakan hal seperti ini, maksudnya sungguh-sungguh menyukai dan nge-fans dengan satu grup/boyband. Waktu saya ABG dulu ketika teman-teman saya nge-fans dengan boyband-boyband seperti Boyzone, Westlife, BSB, sampai F4, saya sama sekali tidak tertarik. Well I like their songs cause basically I’m a music lover, tapi hanya sebatas itu saja. Poster-poster yang pernah menghias dinding kamar saya dulu malahan poster film-film favorit saya: The Lord of The Rings, Harry Potter, Rurouni Kenshin-Samurai X; atau poster pemain bola (Del Piero); atau poster aktor korea: Bae Yong Jun dan Won Bin.

Saya mungkin telat banget ya? Ah, tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi seorang ELF (btw, ELF adalah nama fandom/sebutan untuk para fans Super Junior yang merupakan kepanjangan dari Ever Lasting Friends).

I’m officially and proudly to be an ELF.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sherlock Holmes, E-book & Buku Terjemahan

Juli 14, 2011 at 1:17 AM (Uncategorized) (, , , , )

Akhir-akhir ini saya cukup banyak membaca e-book. Yah tidak banyak juga sih… saya sudah selesai membaca tiga buku: Jane Austen’s ‘Sense & Sensibility’ dan dua buku Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle. Saat ini saya sedang membaca buku keempat: ‘The Adventures of Sherlock Holmes’.

Memang belakangan ini saya sedang suka sekali dengan tokoh detektif yang satu itu setelah menonton serial televisi dari BBC “Sherlock” yang beberapa waktu lalu  tayang di Indovision (channel AXN Beyond). Serial yang menceritakan tentang Sherlock Holmes di abad 21 ini diperankan dengan sangat brilian oleh aktor Benedict Cumberbatch sebagai Sherlock Holmes dan Martin Freeman sebagai Dr. John Watson (Watch it if you can. It’s so good!). 

Setelah menuntaskan menonton season pertama dari serial tersebut (yang hanya terdiri dari 3 episode), I became quite obsessed with Sherlock Holmes. Selama ini memang saya tahu tentang Sherlock Holmes tapi saya tidak pernah benar-benar membaca bukunya. Karena agak sulit mencari buku-bukunya di toko buku, saya mendownload e-booknya. Saya pun berhasil membaca dua buku pertama Sherlock Holmes: ‘A Study in Scarlet’ dan ‘The Sign of Four’. But you know lah, bagaimanapun juga beda rasanya dan agak sedikit kurang enak membaca e-book dibandingkan dengan membaca buku cetak asli dengan kertas dan tinta. Jadi bayangkan betapa senangnya saya ketika akhirnya menemukan buku-buku Sherlock Holmes di salah satu toko buku. Saya membeli salah satunya, yaitu buku terjemahan dari sebagian ‘The Adventures of Sherlock Holmes’. Ketika saya mulai membaca, dari halaman pertama pun saya sudah mengerutkan dahi dan agak bingung dengan kalimat-kalimat terjemahannya:

“Hmm… kok kalimatnya agak aneh; ini maksudnya apa ya?”, begitu pikir saya. Karena saya punya edisi aslinya dalam bentuk e-book, saya membukanya dan membaca dalam bahasa aslinya, dan akhirnya saya mengerti “Oh itu maksudnya…”

Saya pun melanjutkan membaca buku terjemahannya. Halaman demi halaman kebingungan-kebingungan itu terus berulang sehingga membuat saya beberapa kali bolak-balik membuka e-booknya dan membandingkan antara bahasa asli dengan terjemahannya. Dan saya menemukan cukup banyak kesalahan penerjemahan di dalamnya. Jangankan kalimat sulit, hal-hal kecil seperti angka saja salah. Contohnya ‘fifty minutes’ diterjemahkan menjadi ‘lima belas menit’; ‘seventeen steps’ diterjemahkan menjadi ‘tujuh langkah’ → bukan hanya salah menerjemahkan yang seharusnya ‘tujuhbelas’ menjadi ‘tujuh’, bahkan ‘steps’ yang dimaksud disitu adalah ‘anak tangga’ bukannya ‘langkah’. Akhirnya belum sampai selesai membaca bab pertama, saya sudah menyerah membaca si buku terjemahan dan kembali membaca e-book-nya.

Sungguh bukan saya bermaksud menyombongkan diri bahwa saya jago bahasa Inggris atau apapun semacamnya. Sama sekali tidak. Saya pun kadang (atau sering) kebingungan atau tidak mengerti saat membaca buku-buku berbahasa Inggris. Tapi saya lebih suka kebingungan membaca dalam bahasa aslinya, karena setidaknya saya bisa membuka kamus; daripada saya kebingungan dalam membaca kalimat-kalimat terjemahan. Karena saat bingung membaca terjemahan saya selalu bertanya-tanya “kalau kalimat aslinya apa ya?” & “apa maksudnya?” → bingungnya jadi dobel (bingung kuadrat). Memang tidak semua buku terjemahan bisa dipukul rata. Banyak buku-buku yang berhasil diterjemahkan dengan baik dan memudahkan (tidak harus capek-capek membaca buku berbahasa Inggris). Mungkin kali ini saya agak kurang beruntung mendapatkan buku dengan terjemahan yang mengecewakan.

Tapi bagaimanapun juga, saya suka membaca buku-buku berbahasa Inggris dari berbagai jenis genre dan zaman , cause that’s how I improve my English. Memperkaya kosakata bahasa Inggris. Karena bahasa Inggris-Amerika berbeda dengan bahasa Inggris-U.K. Bahasa Inggris zaman sekarang pun berbeda dengan bahasa Inggris di zaman dulu: di zaman Shakespeare misalnya, dan berbeda pula dengan bahasa Inggris di zamannya Sir Arthur Conan Doyle. Karena dengan membaca dalam bahasa aslinya membuat saya dapat menikmati gaya bahasa si pengarang, lebih menghayati cerita dan merasakan suasana di zaman tersebut, first-hand from the author, langsung dari kata-kata sang pengarang tanpa melalui perantara sang penerjemah.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Mama Tersayang

Mei 22, 2011 at 9:44 AM (Love)

Ibu saya adalah ibu paling hebat sedunia. Mungkin hampir semua anak berpikiran seperti itu mengenai ibu mereka, begitu pula dengan saya. Masakan buatannya adalah makanan paling enak sedunia. Beliau begitu terampil menjahit, 70% baju-baju di lemari pakaian saya adalah buatannya. Every thing she does is magic and I love everything about her.

Beliau hampir tidak pernah sakit, sakitnya hanya sekedar batuk pilek biasa-minum obat warung sembuh. Tapi sudah seminggu ini beliau dirawat di rumah sakit. Sebelum akhirnya masuk rumah sakit beliau sudah merasa sakit di rumah selama seminggu: demam, batuk, tidak nafsu makan. Pernah pada satu malam panas badannya hingga mencapai 40,2oC, setelah memberikan parasetamol saya bantu dengan mengompresnya. Saya ganti kompresannya setiap 15-30menit. Selama melakukan hal tersebut saya teringat sewaktu saya kecil dan sedang sakit panas, beliau selalu melakukan hal yang sama. Saya ingat walaupun badan saya panas dan sakit tapi tangan beliau selalu menyejukkan dan membuat saya nyaman. Mungkin tangan saya saat ini masih jauh dari kehebatan tangannya dulu tapi saya berharap bisa memberikan sedikit saja kenyamanan untuknya.

Selama seminggu beliau dirawat saya menemaninya di rumah sakit. Saya belum pernah merasa begitu bersyukur dengan fakta bahwa saya belum menikah seperti rasa syukur saya sekarang. Karena saya masih lajang, belum punya suami dan belum punya anak, saya bisa memberikan 100% waktu saya untuk beliau, untuk menemaninya di rumah sakit. Pada satu malam, kalau tidak salah malam ketiga di rumah sakit, beliau terbangun di tengah malam dan sulit tidur karena batuk yang begitu mengganggu, saya memberikannya air hangat dan mengoleskan obat gosok hangat di leher, dada dan punggungnya. Lalu satu kalimat yang beliau katakan saat itu membuat saya tersentak, terharu & ingin menangis, beliau bilang begini: “udah Ajeng tidur aja, besok kan kerja.” Ya Allah, Ya Rabbi… begitulah seorang ibu, walaupun dirinya sendiri sedang sakit tapi tetap yang dipikirkan adalah anaknya.

Mama tersayang, cepatlah sembuh dan sehat kembali. Ya Allah, sembuhkanlah dan berikanlah kesehatan, keselamatan, rahmat dan barokah untuk Mama.

“Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran” – “Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku, kasihilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku kecil.”

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Love Letter For No One

April 21, 2011 at 7:35 PM (Love) ()

Aku ingin menulis surat cinta
Surat cinta untukmu
Aku ingin menuliskan di dalamnya,
betapa ku merindukanmu

Aku rindu, ingin bertemu
Bertemu denganmu,
denganmu yang ku tak tahu ada dimana
denganmu yang ku tak tahu rupanya

Mungkinkah kita sudah bertemu,
tapi aku tak tahu kalau itu kamu
Atau kamu masih berada jauh entah dimana

Maaf jika terkadang ku berpikir,
bahwa aku belum ingin bertemu denganmu,
bahwa aku masih ingin sendiri

Tapi jauh di dalam hati aku tahu
Hidupku belum lengkap tanpamu
Karena setiap jiwa diciptakan berpasangan
Dan aku merindukanmu, pasangan jiwaku

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bacalah!

Maret 6, 2011 at 3:47 AM (Love, Reminder) (, , , , , )

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.

Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.

Dia Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” QS Al-‘Alaq (96): 1-5

Ayat-ayat ini, firman Allah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, merupakan salah satu ayat-ayat terfavorit saya di dalam Al-Quran dan yang menjadi inspirasi hidup saya.

Saya menyadari tafsir dari ayat-ayat Iqro di atas bukanlah secara harfiah membaca buku atau tulisan yang tersurat. Seperti kita tahu Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang buta huruf, saat malaikat Jibril menampakkan diri di depan Beliau dan menyampaikan “Iqro!” atau “Bacalah!”, Beliau menjawab “Saya tidak bisa membaca” lalu Jibril mengulanginya lagi hingga yang ketiga kalinya dan akhirnya turunlah ayat-ayat Al-Quran yang pertama. Ayat-ayat yang menyatakan bahwa Sang Pencipta, Yang Maha Pemurah, adalah Sumber dari segala ilmu dan Dia mengajarkan kepada kita apa yang tidak kita ketahui dengan perantaraan kalam.

Tapi… Ya Allah izinkanlah saya mengartikannya secara harfiah. Saya sering merasa bahwa Allah sungguh-sungguh menyuruh kita untuk membaca. Membaca apapun, dari yang tersirat maupun yang tersurat, membaca Al-Quran, membaca buku, membaca alam, membaca sifat-sifat manusia, membaca hikmah dari setiap kejadian dalam hidup kita, dsb.

Dan ini adalah tulisan mengenai kecintaan saya terhadap buku dan terhadap membaca.

I love reading. Saya sangat suka membaca. Saya selalu membawa buku kemanapun saya pergi. Banyak orang bilang ‘menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan’, kalau untuk saya, menunggu sama sekali bukan masalah apalagi menjadi hal yang membosankan, karena saya selalu mempunyai buku untuk dibaca sambil menunggu- definitely not a minute to waste.

sebagian dari koleksi buku kami

Saya berasal dari keluarga yang suka membaca. Dari semenjak saya kecil keluarga kami selalu berlangganan koran dan majalah (tentu saja majalah Bobo untuk anak-anak terkecil). Lalu salah satu koleksi orang tua saya yang sebagian masih ada sampai sekarang adalah kumpulan buku-buku serial silat karya Asmaraman S. Kho Ping Ho(alm). Saya pertama kali membaca buku-buku silat tersebut sejak SMP dan saya tumbuh besar membaca buku-buku Enid Blyton, Lupus, kemudian juga komik-komik Jepang saat pertama kali masuk di Indonesia: Candy-Candy, Doraemon, Kungfu Boy, dsb. Ketika saya kuliah di Jatinangor dan Bandung, dari 600-800ribu rupiah uang bulanan yang dikirimkan oleh orang tua, saya selalu menyisihkan 100ribu untuk membeli buku – tidak termasuk pengeluaran pada saat khusus, contoh: jika ada pameran buku/book fair budget yang 100ribu itu bisa membengkak dua sampai tiga kali lipat atau lebih. Saya tidak pernah sayang mengeluarkan uang untuk membeli buku, saya menganggap membeli buku adalah sebuah investasi. A good investment too.

“Buku adalah jendela dunia.” You maybe come from a remote place, a small town or village; maybe you never travel to anywhere beyond your city or country; but by reading a book you can go around the world and back again, you can go to outer space, you can go back to the past, to the future, to a magical world, to wonderland, to neverland, you can go to any place your imagination takes you; there’s no limit.

Salah satu kutipan terindah mengenai buku terdapat pada karya Jostein Gaarder & Klaus Hagerup di dalam bukunya, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken :

“…pada saat itu aku tahu bahwa setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas.”

Saya bahkan membayangkan surga sebagai sebuah perpustakan super besar, super lengkap dan super nyaman yang berisikan semua buku yang ada di dunia dari awal kejadian bumi hingga hari kiamat. – Yah… nggak segitunya juga sih, tapi memang benar saya membayangkan pasti ada perpustakaan sebesar itu di salah satu sudut surga.

“Ya Allah jika angan-angan saya ini ada benarnya sedikiiit saja, dengan segala kerendahan hati – saya tahu saya banyak dosa dan belum pantas menikmati surgaMu, tapi dengan memohon rahmatMu – saya mohon izinkanlah saya untuk memasuki surgaMu Ya Allah… Amin Ya Robbal‘Alamin.”

Jakarta, 5 Maret 2011

Sepulang dari Islamic Book Fair, Istora Senayan

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

This weekend (Akhir Februari 2011)

Februari 25, 2011 at 2:41 PM (Uncategorized)

Akhir pekan ini jadwal saya adalah ke Pekalongan untuk menghadiri pernikahan sepupu. It will be a big family event. Saya berasal dari keluarga yang cukup besar. Alm kakek & nenek (dari pihak ayah) mempunyai 7 anak dan 28 cucu. Dari 28 orang cucu itu hampir seluruhnya sudah menikah, dengan pernikahan sepupu saya akhir pekan besok maka tinggal 4 orang yang belum: 2 orang laki-laki & 2 orang perempuan. Yang laki-laki, satu orang masih SMA dan yang satunya kuliah. Yang perempuan: sudah jelas yang satu adalah saya sendiri :) dan yang satu lagi (sepupu perempuan yang usianya lebih muda dari saya) sudah punya pacar, keluarganya dan keluarga sang pacar sudah saling bertemu jadi sepertinya pernikahan sudah di depan mata. Bisa dipastikan di acara keluarga besok saya akan menerima banyak pertanyaan:
“Kapan nikah?”
“Kapan kawin?”
“Kapan nyusul?”
“Kapan ngundang?”
“Ditunggu undangannya ya…” Dan sebagainya dan sejenisnya.
*Hiyyaaaa…. Selamat menghadapi gempuran pertanyaan-pertanyaan itu ya Jeng..
Sebetulnya saya tidak merasa terganggu atau kesal, sebal dengan semua pertanyaan itu. Tapi yah bagaimanapun juga butuh persiapan mental, kesabaran luar biasa dan bekal senyum lebar yang tak boleh ada habisnya dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut.
‘Cia yo!’
‘Ganbatte!’
‘You can do it!’
‘Semangaaaaaaat!’

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Persamaan Antara Sepatu dan Jodoh

Februari 14, 2011 at 6:24 PM (Uncategorized)

Akhir pekan kemarin jadwal saya adalah berburu sepatu. Saya pergi ke mal terdekat dari rumah dan menjelajahi setiap sudutnya untuk mencari dan membeli sepatu. Setelah lebih dari separuh toko di mal tersebut saya masuki dan belum juga membuahkan hasil, membuat saya berpikir: “Wow, susah juga ya cari sepatu, kayak nyari jodoh aja…”

Dan sampai akhir pencarian, pikiran bahwa ada persamaan antara mencari sepatu dan mencari jodoh terus tertanam dalam benak saya. Saya akan bercerita tentang apa yang terjadi selama pencarian itu dan hal-hal yang membuat saya berpikir seperti itu.

Sejak berangkat dari rumah saya sudah punya gambaran atau bayangan sepatu seperti apa yang ingin saya beli: I want a platform shoes. Di tengah pencarian saya belum menemukan platform shoes yang sesuai keinginan, saya malah tertarik pada sepasang sepatu wedges, tapi karena saya tidak berencana untuk membeli wedges saya melanjutkan pencarian. Sampai akhir ketika semua toko dan departemen store di mal tersebut sudah saya jelajahi I still haven’t found what I am looking for. Memang banyak platform shoes dijual di dalam toko-toko tersebut tapi dari kesemua itu saya tidak menemukan satu pun yang warna dan desainnya sesuai dengan selera saya. Dan akhirnya saya kembali ke tempat sepatu wedges yang sempat membuat saya tertarik. Saya pikir “why not?” daripada pulang dengan tangan hampa walaupun tidak mendapatkan platform shoes yang saya cari dari awal, wedges pun tak masalah. Lalu kepada pramuniaga saya meminta ukuran 39 dan 40. Dan ketika saya mencoba nomor 39 – saya tidak tahu apakah sepatunya yang salah atau kaki saya yang besar sebelah – tapi yang saya rasakan adalah sepatu sebelah kiri terlalu sempit dan tidak nyaman. Ketika saya mencoba nomor 40, keduanya terlalu besar. Saya sempat bingung memutuskan untuk jadi membeli atau tidak, tapi akhirnya saya tidak membelinya. Sebenarnya kalau saya sungguh tidak ingin pulang dengan tangan hampa bisa saja saya membelinya, tapi saya pikir untuk apa saya memaksakan diri. Jika saya membeli sepatu yang terlalu besar atau terlalu sempit atau tidak nyaman dipakai bukankah nantinya saya sendiri yang akan tersiksa saat memakainya. Jadi walaupun hari ini saya belum menemukan sepatu yang tepat, that’s okay, karena masih ada esok hari (Insya Allah). Besok atau lusa atau minggu depan saya bisa mencari lagi.

Anda bisa melihat persamaannya? Persamaan antara mencari sepatu dan mencari jodoh? Anda mencari jodoh dengan kriteria tertentu, anda menemukan orang-orang yang sesuai kriteria tapi tak ada satupun yang cocok atau sesuai di hati. Lalu bisa saja di tengah perjalanan anda menyukai sesorang yang berbeda dari kriteria tersebut, anda mencoba menjalaninya tapi tetap tidak pas atau anda merasa tidak nyaman. Anda bisa saja memaksakan diri dan memilih siapapun yang ada di depan anda karena alasan yang salah (faktor usia, desakan orang tua, afraid of end up being alone,etc) tapi jika anda belum menemukan seseorang yang tepat, sekali lagi saya ingin mengatakan: that’s okay. That’s okay if you haven’t find the right one NOW. Sooner or later you’ll find it and you’ll know it when you find the perfect shoes for you.

 

Permalink 1 Komentar

Belum Siap Nikah

Desember 5, 2010 at 3:29 PM (Uncategorized)

I Love Weddings.

Saya suka datang ke pernikahan. Jika ada teman yang menikah bila tak ada halangan atau urusan lain saya usahakan untuk menghadiri. Apalagi pernikahan sahabat, walaupun tempatnya jauh akan saya bela-belain. Bekasi, Bogor, Bandung, bahkan hingga Lampung, dan Jember.

And I already have my dream wedding. Maksudnya: kalau suatu hari nanti saya menikah, saya sudah tahu dimana saya akan mengadakan akad dan resepsinya, hari dan jamnya, kateringnya, periasnya, desain undangannya, pokoknya komplit lah, tinggal mempelai prianya saja yang sampai saat ini belum jelas.

I love the idea of getting married. Saya sudah membaca banyak sekali buku-buku mengenai pernikahan, persiapan pernikahan dan juga tentang membangun rumah tangga Islami dan lain sebagainya. Intinya kalo soal teori sepertinya saya sudah pintar. Tapi kalau soal kesiapan mental untuk menikah.., lain lagi ceritanya.

Dalam salah satu postingan di blog ini yang berjudul Back To Being ‘Single Happy’ tanggal 6 Maret 2010 saya menulis: “Saya mengira saya sudah siap, tapi Allah Maha Tahu & Maha Bijaksana. Mungkin Dia menilai saya belum cukup siap….”

Sedari dulu saya selalu berpikir bahwa saya sudah siap untuk menikah (mungkin karena saya sudah jago teori itulah maka saya mengira bahwa jumlah pengetahuan berbanding lurus dengan kesiapan; padahal kenyataannya tidak). Baru sekarang ini dengan kesadaran penuh dan kejujuran hati saya bisa mengakui kepada diri sendiri bahwa saat ini saya belum siap untuk menikah. What happened? Apa yang akhirnya menyadarkan saya? Beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang mengajak saya untuk ta’aruf. Reaksi awal di dalam hati saya adalah mengambil satu langkah mundur dan berpikir “Whoaa… I’m not ready for this” tapi saya alihkan pikiran itu dan lanjut dengan bertukar biodata. There’s nothing wrong with the guy, tapi bukannya merasa mantap malah saya makin merasakan ketidak siapan itu. Seorang teman bilang ‘emang bukan jodohnya kali…’. Yah mungkin juga begitu. But my question is : “Can you really know when the person is right? When the time is right? How can you know? Can you really feel it?” Saya nggak ngerti. Tapi tidak apa-apa. Karena saat ini saya belum mau berpikir banyak soal itu.

Saat ini saya sedang menikmati masa lajang. Pergi kesana kemari sendiri, jalan-jalan dengan teman A sampai Z. Masih ingin bebas sendirian. Masih ingin egois. Masih ingin ber-monolog. Being the only star of my own life.

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.