Sherlock Holmes, E-book & Buku Terjemahan

Juli 14, 2011 at 1:17 AM (Hobbies) (, , , , )

Akhir-akhir ini saya cukup banyak membaca e-book. Yah tidak banyak juga sih… saya sudah selesai membaca tiga buku: Jane Austen’s ‘Sense & Sensibility’ dan dua buku Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle. Saat ini saya sedang membaca buku keempat: ‘The Adventures of Sherlock Holmes’.

Memang belakangan ini saya sedang suka sekali dengan tokoh detektif yang satu itu setelah menonton serial televisi dari BBC “Sherlock” yang beberapa waktu lalu  tayang di Indovision (channel AXN Beyond). Serial yang menceritakan tentang Sherlock Holmes di abad 21 ini diperankan dengan sangat brilian oleh aktor Benedict Cumberbatch sebagai Sherlock Holmes dan Martin Freeman sebagai Dr. John Watson (Watch it if you can. It’s so good!). 

Setelah menuntaskan menonton season pertama dari serial tersebut (yang hanya terdiri dari 3 episode), I became quite obsessed with Sherlock Holmes. Selama ini memang saya tahu tentang Sherlock Holmes tapi saya tidak pernah benar-benar membaca bukunya. Karena agak sulit mencari buku-bukunya di toko buku, saya mendownload e-booknya. Saya pun berhasil membaca dua buku pertama Sherlock Holmes: ‘A Study in Scarlet’ dan ‘The Sign of Four’. But you know lah, bagaimanapun juga beda rasanya dan agak sedikit kurang enak membaca e-book dibandingkan dengan membaca buku cetak asli dengan kertas dan tinta. Jadi bayangkan betapa senangnya saya ketika akhirnya menemukan buku-buku Sherlock Holmes di salah satu toko buku. Saya membeli salah satunya, yaitu buku terjemahan dari sebagian ‘The Adventures of Sherlock Holmes’. Ketika saya mulai membaca, dari halaman pertama pun saya sudah mengerutkan dahi dan agak bingung dengan kalimat-kalimat terjemahannya:

“Hmm… kok kalimatnya agak aneh; ini maksudnya apa ya?”, begitu pikir saya. Karena saya punya edisi aslinya dalam bentuk e-book, saya membukanya dan membaca dalam bahasa aslinya, dan akhirnya saya mengerti “Oh itu maksudnya…”

Saya pun melanjutkan membaca buku terjemahannya. Halaman demi halaman kebingungan-kebingungan itu terus berulang sehingga membuat saya beberapa kali bolak-balik membuka e-booknya dan membandingkan antara bahasa asli dengan terjemahannya. Dan saya menemukan cukup banyak kesalahan penerjemahan di dalamnya. Jangankan kalimat sulit, hal-hal kecil seperti angka saja salah. Contohnya ‘fifty minutes’ diterjemahkan menjadi ‘lima belas menit’; ‘seventeen steps’ diterjemahkan menjadi ‘tujuh langkah’ → bukan hanya salah menerjemahkan yang seharusnya ‘tujuhbelas’ menjadi ‘tujuh’, bahkan ‘steps’ yang dimaksud disitu adalah ‘anak tangga’ bukannya ‘langkah’. Akhirnya belum sampai selesai membaca bab pertama, saya sudah menyerah membaca si buku terjemahan dan kembali membaca e-book-nya.

Sungguh bukan saya bermaksud menyombongkan diri bahwa saya jago bahasa Inggris atau apapun semacamnya. Sama sekali tidak. Saya pun kadang (atau sering) kebingungan atau tidak mengerti saat membaca buku-buku berbahasa Inggris. Tapi saya lebih suka kebingungan membaca dalam bahasa aslinya, karena setidaknya saya bisa membuka kamus; daripada saya kebingungan dalam membaca kalimat-kalimat terjemahan. Karena saat bingung membaca terjemahan saya selalu bertanya-tanya “kalau kalimat aslinya apa ya?” & “apa maksudnya?” → bingungnya jadi dobel (bingung kuadrat). Memang tidak semua buku terjemahan bisa dipukul rata. Banyak buku-buku yang berhasil diterjemahkan dengan baik dan memudahkan (tidak harus capek-capek membaca buku berbahasa Inggris). Mungkin kali ini saya agak kurang beruntung mendapatkan buku dengan terjemahan yang mengecewakan.

Tapi bagaimanapun juga, saya suka membaca buku-buku berbahasa Inggris dari berbagai jenis genre dan zaman , cause that’s how I improve my English. Memperkaya kosakata bahasa Inggris. Karena bahasa Inggris-Amerika berbeda dengan bahasa Inggris-U.K. Bahasa Inggris zaman sekarang pun berbeda dengan bahasa Inggris di zaman dulu: di zaman Shakespeare misalnya, dan berbeda pula dengan bahasa Inggris di zamannya Sir Arthur Conan Doyle. Karena dengan membaca dalam bahasa aslinya membuat saya dapat menikmati gaya bahasa si pengarang, lebih menghayati cerita dan merasakan suasana di zaman tersebut, first-hand from the author, langsung dari kata-kata sang pengarang tanpa melalui perantara sang penerjemah.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.